Cintakulah yang menghasilkan karya, 19:47, Rabu, 25 Maret 2020. “Maafkan Aku, Mama. Kali ini kau mendengar, membaca getaran sayangku Setiap kali aku mengucapkan kata ‘Ayah’ dikala aku terpuruk akan duniaku. Ku harap Mama tidak cemburu akan hal itu.”

Yuk Bagikan Tulisan Ini

Share on facebook
Share on pinterest
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram

Diantara kata-kata yang pernah terucap dari mimpi burukku, beliaulah nama yang selalu ku sebut pertama kali. Ketika, ketakutan menyerbu pikiranku, kututup mataku dan ku sebut ‘Ayah’ di bibirku yang bergemetar. Aku juga tak ingin membiarkan pendapat terkait anak perempuan pada dasarnya akan dekat dengan Ayahnya menjadi pakem pada keluargaku, karena Ayah hanya kutemui disaat aku pulang dari rutinitas padatku saat malam hari dibandingkan Mama yang lebih sering ku temui. Sesuai ajaran Rasulullah; ibumu, ibumu, ibumu lalu Ayahmu.

               Terkadang, aku juga bertanya-tanya, mana mungkin orang yang jarang kutemui ini bisa meluluhkanku. Sedangkan, Mama yang senantiasa bersenandung ketika pagi hari malah terkadang kuabaikan. Ayah biasanya berangkat di pagi hari sesaat setelah shalat subuh ia tunaikan, dan pulang setelah ba’da dhuhur. Pekerjaannya boleh dikata telah menjadi hobi dan keahliannya. Maklum saja, beliau telah bergelut menjadi seorang nelayan sejak anak-anak zaman sekarang masih belajar berhitung di tingkatan SD. Beliau boleh dikata, membaca pun kadang ia harus pandang lekat-lekat dan melafalkan nya. Terkadang aku akan siap sedia membacakan resep dari buku ataupun membaca komposisi bahan dari makanan yang ingin disantapnya, seolah-olah ia seorang ahli gizi saja bukan?

 Ayah merupakan anak pertama dari 12 orang bersaudara. Sejak kecil ia dididik untuk hidup mandiri dan bisa membantu Kakek untuk menyekolahkan saudara-saudaranya. Terkadang ia juga menjadi pedagang kue keliling ‘jalankote’, ‘es kacang ijo’, dan kue-kue tradisional lainnya yang dibuat oleh Nenek. Sebagai seorang lelaki, ia menjadi cukup unggul dalam persepsiku, bahkan terkadang masakan yang ia olah, menjadi begitu lezat untuk disantap. Sesekali Aku menemaninya untuk membuat makanan olahan rumahan. Sayang sekali, lidahnya tidak familiar dengan makanan kontemporer seperti sushi, atau segala macam terkait mayonnaise atau keju. Tentu saja, baginya ikan adalah nomor satu baginya.

Seringkali dalam penggalan kisahku, ku runut sedemikian rupa agar beliau turut dalam tiap kisahku. Yah, aku merasa begitu miskin dihadapannya, miskin akan perhatiannya. Lantas mengapa ia menjadi sosok yang begitu membuatku terpesona? Baiklah. Pertama, dalam lingkup keluarga besar kami, ia menjadi sosok yang selalu inspiratif, ‘dituakan’, disegani karena fikirannya yang begitu solutif. Ia selalu menjadi penasehat keluarga dalam segala hal. Kedua, sebenarnya ia adalah sosok yang begitu pendiam, namun terkadang demi kebaikan anak-anaknya ia menjadi begitu tegas bahkan terkesan militan. Pernah suatu ketika aku kehilangan kendaraan pribadiku –sebut saja motor. Beliau adalah orang pertama kali ku cari dan ku hubungi. “Ayah, Hilang motorku, saya parkir depan kos teman ku, saya parkir sebentar, keluar, sudah tidak ada”. Kataku sambil terbata-bata, menahan tangis dan sembari menggigit bibirku. Fikirku, ia akan menceramahiku habis-habisan, tapi tidak, tidak sama sekali. Saat sambungan telepon ia berkata, “jadi nak?” aku hanya terdiam, aku khawatir jika kulanjutkan tangis ku akan pecah, dan aku tak ingin Ayah tak tidur memikirkan hal itu. Kemudian ia lanjut, “Sabar mi nak, tunggu ma kesana” seketika ku matikan telepon tanpa berbicara lagi, tangisku pecah seketika. Kami pulang dalam keheningan. Keheningan dari seorang anak yang tak jauh dari pohonnya.

Ketiga, beliau orang yang kuat, seringkali ia mendapat luka parah dari peluh keringat lelahnya mencari nafkah. Ia tak pernah mengeluh sama sekali. Bahkan, saat tangannya hampir putus dikarenakan mesin gurinda yang ia gunakan untuk memotong tegel. Sesekali, aku hanya melirik tangan lukanya, aku tak ingin menegurnya. Lagi-lagi karena Aku seorang anak Ayah. Dalam keadaan sakit, ia tetap mencari nafkan untuk kami. Walaupun ia, tak melahirkanku, dari keringat peluhnya, menjadi nafkah pada Mama, yang ku konsumsi menjadi ASI saat bayi-balita, yang kini mendarahdaging dalam tubuhku hingga saat ini. Seringkali ketika Aku berbuat salah, yang terlihat hanyalah wajah merah padam menahan amarahnya ketika anak gadisnya menginap ditempat lain, tanpa seizinnya terlebih dahulu. Beruntungnya Aku, menjadi anaknya.

Keempat, ia menjadi guru besar dalam kehidupanku. Ia akan memberikan pemikiran positif dalam segala hal (absolutely positive vibes). Terkadang menjadi seorang masterchef, di mana aku harus tanggap melihatnya mencampur berbagai macam rempah-rempah; seorang arsitek, ia mahir menggambar, bahkan ia mampu menggambar sketsa rumah yang rancang dan ia bangun sendiri, di mana terkadang aku menjadi anak buah mandornya dengan mengaduk campuran semen, mengangkat batako, mengergaji balok atau sekedar menyiapkan minuman penghilang dahaganya; Terkadang ia menjadi montir bengkel, ia mampu membuka dan memperbaiki kendaraan dengan alat-alat yang ia kumpulkan dalam satu lemari, katanya itulah warisannya untuk kami.

Seringkali menjadi sangat dermawan, uang saku berlebih yang kutemukan dalam sadel motor/ selipan buku bacaanku, atau uang yang dimasukkan dalam tas ransel atau tangki bensin yang full. Bahkan, seringkali ia membawa pulang makanan yang ia fikir enak dan dilain waktu bereksperimen membuatnya; Terkadang ia menjadi ahli gizi yang paling paham kemauan anaknya, dan pembagian yah boleh dikata, jatah untukku selalu berlebih dari saudara-saudaraku yang lain, katanya aku ini anak yang kekurangan gizi; Terkadang ia akan bertindak sebagai politikus negarawan yang membicarakan politik Negara luar dengan senjata-senjatanya yang begitu lengkap, untuk memulai pembicaraan saat mendapatiku pulang malam akibat padatnya jadwal yang kulakukan sedang Mama sudah terlelap serta masih banyak hal lainnya, yang membuatku merasa menjadi anak yang paling beruntung, Ber-Ayah-kan beliau.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu Bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Q.S. Al Isra:23).

Lantas, sejauh ini sudah paham bukan, mengapa Aku begitu cinta, sayang dengan Ayah. Sosoknya memang jarang kutemui, tapi ia selalu meluangkan waktu untukku di sela istirahatnya berada dirumah. Ia bukan Ayah kontemporer yang tahu banyak terkait sosial media atau berselancar dengan hp andoid yang ia putarkan dari channel y*utube, pengganti senandungnya. Walau terkadang, ada beberapa hal yang membuat kita kecewa padanya, Namun, kita harus ingat, mereka (Ayah, Mama, Ibu, Bapak) tidak otomatis menyandang gelar tersebut dengan predikat CUMLAUDE-nya, mereka juga belajar, belajar menjadi orangtua yang baik untuk estafet kehidupan selanjutnya. Betapa aku ingin berbakti, iya.. bakti, berbaktilah sebelum bakti kita berpindah kepada laki-laki bernama ‘Suami’. Namun, bila Ayah kalian telah berpulang, selalulah mendoakannya dan selalu berusaha menjadi lebih baik. Karena kesalehan seorang anaklah yang kelak akan menolong orangtua dihadapan Allah. Terima kasih Ayah~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Artikel Lainnya

Kabar SMP

Pengumuman Kelulusan SMP IT Al Fatih Makassar

Barakallahu fiikum kepada seluruh Ananda Kelas IX SMP IT Al Fatih Makassar atas kelulusannya. Semoga segala ilmu yang diperoleh selama menjadi peserta didik di SMA IT Al Fatih berkah sehingga menjadi jalan yang mengantarkan kesuksesan dunia dan akhirat anandaku sekalian.

Ber-Ikhtiar mempersiapkan diri secara dini dan holistik di Sekolah Islam Terpadu Al Fatih

Pendaftaran Peserta Didik Baru Online

Sekolah Islam Terpadu Al Fatih Makassar jenjang Daycare-TK-SD-SMP-SMA kembali membuka Penerimaan Peserta Didik Baru untuk tahun 2019/2020 mulai Bulan Januari hingga Mei 2019

Foto Kalender TKIT Al Fatih
Scroll to Top
×

Ahlan Wa Sahlan

di SIT Al Fatih Makassar! Silakan chat dengan Customer Assistance Officer kami untuk memulai obrolan. Anda juga bisa meninggalkan pesan di email kami

info@alfatihmakassar.sch.id

× Kontak Kami