Edit

Hubungi kami

Kantor Pusat

Jalan Domba No.12 Makassar

Email:

alfatihsit@gmail.com

Telepon

085299659611

 “Sesungguhnya Allah, Malaikatnya dan penduduk langit, dan bumi, sampai semut yang berada pada batu dan ikan, mereka bershalawat kepada seorang pendidik yang mengajarkan kebaikan.”

(HR.Tirmidzi)

Alangkah bahagianya seseorang yang selalu didoakan dengan kebaikan dan dimohonkan ampunan. Siapa yang tidak ingin? Pernahkah terbayang jika yang mendoakan adalah makhluk sejagad langit dan bumi? Untuk siapa? Untuk mereka para pendidik yang mengajarkan kebaikan. Mengapa begitu mulia? Sebab seorang pendidik memikul amanah yang begitu mulia dan penuh tanggung jawab. Ditangannyalah akan lahir generasi yang akan menebar cahaya kebaikan. Dialah ujung tombak dari semua aspek pendidikan, Dialah sumber dan kunci utama dalam proses keberhasilan pendidikan.

Seorang pendidik dalam hal ini yang dimaksud tidaklah terbatas pada guru yang ada di sekolah melainkan semua yang bertanggung jawab untuk membina dan mengembangkan generasi muda termasuk orang tua.

Memikul Amanah sebagai seorang pendidik itu tidaklah mudah dan saya merasakan hal itu. Tahun 2020-2021 adalah tahun terberat saya dalam menghadapi murid-murid, saat itu saya mendapat amanah mengampuh hafalan juz 29 ananda yang tidak lama lagi akan menghadapi ujian hafalan Al-Qur’an (Munaqasyah) dan disisi lain tahun itu adalah pucak pandemi COVID-19.

Dalam menghafal Al-Qur’an tentunya tak lepas dari kaidah-kaidah hukum tajwid dan makharijul huruf, dan hal ini sangat sulit diterapkan apabila proses belajar mengajar dilakukan secara daring terlebih lagi menghadapi ananda dengan berbagai karakter yang berbeda, dalam menerima hafalan Ananda melalui video call tentunya berhadapan dengan tantangan kejujuran dari mereka. Kesulitan ini mengingatkan pada sosok yang begitu berperan penting dalam perubahan diri saya, Dr. Adnan rahimahullah. STIBA “Sulit Tapi Insya Allah Bisa Allahu Akbar” yang selalu diucapkan beliau akan selalu menjadi motivasi bagi saya.

Saya mulai melakukan berbagai tahapan sebelum memulai pembelajaran dengan mengirimkan video-video motivasi anak-anak penghafal Al-Qur’an juga memberikan wejangan tentang kejujuran dan ganjarannya. Beberapa orang tua mulai merespon positif dengan perubahan anaknya. Disaat semangat mulai terpacu, Saya mendapatkan pesan dari salah satu orang tua siswa yang mengeluhkan kesulitan anaknya dalam menghafal Al-Qur’an. Setelah menemukan titik masalahnya Saya melihat bahwa Ananda ini sebenarnya memiliki potensi yang besar.

Saya mulai meceritakan kisah-kisah inspiratif para penghafal Al-Qur’an yang berhasil menghafalkan Al-Qur’an diusia yang sangat belia serta berbagai keutamaan menghafal Al-Qur’an. Tiga bulan lebih menuju ujian munaqosyah dan saya sangat mengapresiasi semangat Ananda yang begitu istiqomah, hampir setiap malam dan subuh Ananda dibimbing hafalan dan membaca Al-Qur’an dan MasyaAllah sebulan sebelum ujian munaqosyah Ananda telah menyelesaikan hafalan juz 29 nya dengan mutqin, hingga puncak muaqasyah tiba Ananda lulus sebagai finalis ujian munaqosyah terbaik pertama.

Sejak itu Saya yakin bahwa setiap kerja keras pasti akan terbayar dan setiap anak memiliki potensinya masing-masing. Agar ia bisa terbang tinggi jangan patahkan sayapnya. Kedua sayapnya adalah semangat dan kerja keras yang lahir dari diri sendiri dan tentunya dari pendidik baik guru maupun orang tua. Jangan patahkan semangatnya dan jangan remehkan kerja kerasnya sebab jika salah satu sayap itu patah maka harapan untuk berhasil tentulah akan sulit. Kita selaku pendidik cukup berusaha memberikan yang terbaik dan senantiasa mendoakan keberhasilannya.

Jika kita menilik kisah ke belakang, lihatlah bagaimana Muhammad Al-Fatih diusianya yang 21 Tahun mampu menaklukkan Konstantinopel, terlepas dari apa yang menjadi kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentu kita melihat bagaimana semangat dan kerja kerasnya serta peran orang tua dan gurunya. Muhammad II atau Mehmed yang berlakangan dikenal dengan Muhammad Al-Fatih beruntung memiliki ayah yang sangat peduli terhadap pendidikan. Al-Shalabi menceritakan bahwa sang Ayah, Sultan Murad II, selalu mencarikan guru-guru terbaik untuk mendidik anaknya itu.

Sejak kecil, dia telah dididik oleh ulama-ulama besar pada zamannya, khususnya Syaikh Aaq Syamsuddin yang tidak hanya menanamkan kemampuan beragama dan ilmu Islam, namun juga membentuk mental pembebas pada diri Muhammad Al-Fatih. Beliau selalu membekali Al-Fatih dengan cerita dan kisah para penakluk dan selalu mengingatkan Muhammad II tentang bisyarah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan janji Allah yang menjadikan seorang anak kecil Bernama Muhammad II memiliki mental seorang penakluk.

Setiap hari sang Ayah mengajak anaknya duduk di puncak menara masjid yang tertinggi, lalu Sultan Murad menunjuk tangannya jauh di sebuah cakrawala. Apa yang disampaikan Sultan? Sultan menyampaikan motivasi, visi pada seorang anak yang masih sangat kecil. “Mehmed, lihatlah! Di depan, jauh di depan sana, di sanalah Konstantinopel. Kota itu adalah salah satu pusat dari kekufuran. Ibu kota Romawi Timur yang sangat kuat. Kota itu akan jatuh ke dalam kekuasaan Islam. Dan engkaulah, Insya Allah, yang akan menaklukkannya kelak.” Setiap hari dimotivasi dengan kalimat-kalimat yang baik, membuat Mehmed sangat percaya diri dan membuatnya semangat belajar.

Dari sepenggal kisah Muhammad Al-Fatih kita bisa melihat sebuah proses pendidikan yang luar biasa. Ada sinergi dan kesungguhan dari tiga pihak, orang tua, guru, dan anak didik (siswa). Sebab saat anak di rumah maka pemegang penuh pendidikan adalah orang tua. Pendidikan di sekolah hanyalah sebentar. Oleh sebab itu utuk melahirkan generasi yang lebih unggul, maka orang tua juga harus ikut aktif dalam mengawasi perkembangan anak terutama dalam aspek agama. Dalam mencerdsakan setiap anak didik perlulah memberikan motivasi agar setiap anak didik bersemangat dalam melakukan proses belajar mengajar. Berikan dukungan atas semangatnya dan apresiasi kerja kerasnya. Sekali lagi, Jangan Patahkan Sayapnya.

Popular Post

×

Ahlan Wa Sahlan

di SIT Al Fatih Makassar! Silakan chat dengan Customer Assistance Officer kami untuk memulai obrolan. Anda juga bisa meninggalkan pesan di email kami

info@alfatihmakassar.sch.id

× Kontak Kami