• +62852.9965.9611
  • info@alfatihmakassar.sch.id
  • Senin - Jumat: 07:00 - 16:00

Resensi Buku “25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menegaskan tentang Alquran dan Hadits sebagai pegangan. Maka orang tua tak perlu jauh mencari teladan dalam menasehati anak. Mengawal tiap langkah mereka adalah tugas utama orang tua dan guru.

Yuk Bagikan Tulisan Ini

Share on facebook
Share on pinterest
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Identitas

Data Buku

Judul               :  25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak
Judul Asli        :  Al-Inshat Al-in’ikasi; Khamsun wa ‘isyruna Thariqatan Lit-Ta’tsiri fi Nafsith-Thifli wa aqlihi
Pengarang       : Muhammad Rasyid Dimas
Penerjemah     :  Sari Narulita
Penyunting      : Dadi Muhammad Hasan Basri
Layout             : Robbani Advertising
Desain Cover  : Widhawanza
Penerbit          : ROBBANI PRESS
·       Cetakan  I, 2000
·       Cetakan  II, 2006
·       Cetakan  IV, 2012
Tahun terbit    :  2006
Tebal               : 265  halaman
Tinggi             :  17 cm
Berat               :  200 gr
Distributor      : Mizan media utama (MMU)
Kategori          : Psikologi dan Parenting

Sinopsis Buku

Sesuai dengan judul buku maka ada 25 Kiat yang dipaparkan Muhammad Rasyid Dimas dalam Buku ini. 25 kiat mempengaruhi jiwa dan akal anak. Penulis mengingatkan “jangan main-main dengan pendidikan anak. Salah dalam melakukan pendekatan, bisa-bisa Anda malah menghancurkan masa depan mereka.”.

Di awal bab, penulis  mulai membahas kiat yang paling dasar dalam mendidik anak. Banyak orang tua maupun guru terkadang melupakan dasar tersebut, yakni Jadilah Teman dan Panutan bagi Anak. Kiat tersebut sangatlah mendasar, ketika orang tua dan guru telah mampu menjadi teman dan panutan bagi anak-anak maka seluruh perilaku, bahkan karakter yang dimiliki oleh orang tua dan guru akan ditiru oleh anak.

Sebelum mengulas lebih lanjut,  25 kiat yang disampaikan oleh penulis akan di bagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah Bonding Time (kiat 1 – kiat ke 3)

Kiat 1

Jadilah Teman dan Panutan bagi Anak

Sejak kiat pertama disampaikan, Muhammad Rasyid Dimas telah menuliskan kisah teladan dari nabi dan para sahabat. Dijelaskan, Anas sebagai orang yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, mengisahkan tentang kedekatan sang nabi dengan kaummya terutama kepada anak kecil. Dikala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melihat sekelompok anak yang sedang bermain. Beliau tidak lantas membubarkan mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahkan memotivasi mereka untuk bisa menanamkan kebersamaan dan  kekonsistenan dalam melakukan sesuatu.

Sikap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang dekat dengan anak kecil lalu menjadi contoh bagi para sahabat. Umar tidak malu menemani anaknya dan Ibnu Abbas untuk bermain. Zubair menemani anaknya bermain perang-perangan untuk mengajarkan padanya seni berperang. Rasulullah pun mengarahkan anak-anak untuk bermain dengan sebayanya. Rasulullah dimasa kanak-kanak sangan senang bermain dengan sebayanya. Beliau tumbuh dan berkembang bersama dengan teman sebayanya.

Orang tua sepatutnya mampu meluangkan waktu bermain dengan sang anak. Memilihkan lingkungan yang baik untuk mereka. Memotivasi anak untuk pandai bergaul. Selama masa kanak-kanak, orang tua menjadi teman dan panutan adalah kuncinya. Jika orang tua keliru saat memperlihatkan sikap serta tingkah laku, maka anak akan tumbuh dengan cara seperti itu pula. Anak tidak mendengarkan seluruh perkataan orang tua tetapi anak mengikuti seluruh sikap dan perilaku orang tua.

Kiat 2

Penuhilah Hak-Hak Anak

Setelah orang tua dan guru telah berhasil menciptakan hubungan “teman” kepada anak maka bab ke dua adalah Penuhilah Hak-Hak Anak. Di bab kedua, penulis menyampaikan bahwa menyenangkan anak dengan hak-haknya adalah hal utama. Anak-anak akan merasa dihargai dan diistimewakan dalam hubungan tersebut. Anak-anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang besar. Ia tumbuh dengan kasih sayang dan hak yang terpenuhi. Ia tak akan melakukan pencarian jati diri lagi di luar rumah, karena Ia telah memilikinya sejak masih anak-anak.

Salah satu hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua dan pendidik, menurut Muhammad Rasyid Dimas adalah mendapatkan pemahaman, simpati dan nasihat saat mereka melakukan suatu kesalahan. Orang dewasa dan anak-anak sama-sama membutuhkan pemahaman dan simpati. Anak-anak memiliki perasaan yang sangat peka. Mereka sangat mudah merasa sedih dan tertekan.

Penulis menyampaikan, ada dua kalimat yang tidak pantas untuk disampaikan kepada anak-anak, karena hal itu akan menyakiti hatinya. Ketika anak melakukan kesalahan jangan pernah mengatakan “Kapan kamu bisa belajar menjadi anak yang baik,” kata-kata itu menyakiti hatinya dan membekas luka karenanya. Dia akan sangat kecewa dengan kesalahan yang dilakukannya, jika sang anak tidak memiliki pondasi yang kuat, selamanya Ia tidak akan yakin pada dirinya. Anak tersebut akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang kurang.

Kata kedua yang tidak boleh diucapkan adalah “itu salah, mari sini ibu akan menunjukkan cara yang benar untuk melakukannya” Kata-kata itu melukai harga dirinya. Mengapa? Karena anak Anda merasa disepelekan. Anda telah menghilangkan kendali pada diri anak anda sendiri. Anak anda akan merasa dianggap bodoh oleh orang tua. Kelak jika Ia tumbuh dewasa, Ia akan kehilangan keberanian dalam mengambil sikap dan keputusan.

Lalu kata apa yang paling cocok untuk diucapkan kepada anak-anak. Jika mereka melakukan kesalahan? Rasyid Dimas menerangkan, orang tua dan pendidik harus memilih kata-kata yang menunjukkan rasa simpati. “Ini hari yang melelahkan yah nak? Kamu pasti sangat lelah hari ini,” sang anak akan menatapmu dengan tatahan hangat. Ia senang mengetahui fakta bahwa orang tua atau gurunya mengetahui apa yang Ia rasakan. Jangan langsung membantunya menyelesaikan masalah, berikan saja solusinya. Diskusikan masalah yang dihadapinya, tapi jangan mengambil alih kendali.

Kiat 3

Berikanlah Kegembiraan pada Anak

Bab ketiga adalah Berikanlah Kegembiraan pada Anak. Saatnya orang tua dan guru menyirami mereka kegembiraan yang berlimpah. Menjaga hati dan perasaannya. Menjaga kedamaian psikologinya. Anak yang tumbuh dengan kegembiraan akan memberikan kegembiraan pula bagi orang-orang disekitarnya.

Bab keempat hingga bab kesepuluh, Muhammad Rasyid Dimas berfokus pada pendidikan psikologi anak. Mulai dari menanamkan jiwa kompetisi anak, bercanda dengan mereka, memberikan peluang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya, mengembangkan rasa percaya diri, hingga pembiasaan memberikan pujian bagi anak.  Orang tua sepatutnya pandai memberika motivasi pada anak untuk berbuat baik, itulah sebabnya orang tua tidak boleh pelit dalam memberikan pujian. Pujilah mereka jika melakukan hal yang baik dan tegurlah mereka ketika mereka melakukan kesalahan. Pembiasaan tersebut akan membuat anak paham tentang nilai baik dan buruknya sebuah perilaku atau perbuatan.

Kiat 4

Tanamkanlan Jiwa Kompetisi Pada Anak

Kisah lain kembali di sampaikan oleh Rasyid Dimas, tentang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengumpulkan anak-anak dari bani Abbas, lalu Beliau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata “Barangsiapa yang lebih dahulu ke titik itu maka Ia akan mendapatkan hadiah,” anak-anak itupun lalu berkompetisi. Dan Rasul pun menyambut mereka dengan bahagia kemudian menepati janjinya.

Contoh tersebut sudah sangat jelas, bahwasanya jiwa kompetisi pada anak sangat dibutuhkan. Rasulullah ingin menanamkan jiwa pembelajar bagi mereka. Anak-anak akan belajr banyak hal. Mulai dari mempersiapkan diri dengan gigih hingga hari kompetisi tiba hingga belajar tentang kehidupan. Anak-anak akan mengetahui bahwa adakalanya Ia akan mengalami kemenangan namun adakalanya Ia harus bersabar atas kekalahan. Anak-anak juga akan belajar bahwa hidup itu tidak selamanya akan berjalan sesuai keinginan.

Anak-anak islam yang tumbuh dengan jiwa kompetisi akan tumbuh menjadi anak yang memiliki kemampuan social yang baik dan tidak egois. Dengan mendampingi ananda dalam menanamkan jiwa kompetisi maka anak akan memiliki jiwa kebersamaan yang tinggi.

Tak hanya tentang kompetisi fisik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terbiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengasah kecerdasan otak para sahabat. Pada suatu ketika, Rasulullah dan para sahabat sedang berkumpul. Dan hadir pula seorang anak bernama Ibnu Umar di tengah-tengah mereka. Diriwayatkan dari Ibnu Umar Ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda “Ada satu pohon yang daunnya tidak berguguran dan Ia layaknya seorang  muslim. Adakah kalian mengatakan kepadaku pohon apakah itu?” para sahabat menyangka bahwa pohon yang dimaksud adalah pohon papirus. Abdullah lalu berkata, “Aku mengira pastilah pohon itu pohon kurma, namun aku malu mengatakannya,” para sahabat lalu bertanya, “Pohon apakah itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,” Ia pohon kurma.” (HR Bukhari)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ibnu Umar enggan menjawab duluan karena etika. Namun pada saat itu Ibnu Umar juga menggunakan kecerdasannya untuk berpikir. Tujuan dari kompetisi adalah untuk mengasah kemampuan berpikir anak.

Kiat 5

Bercandalah dengan Anak dan Berilah Dia Mainan

Muhammad Rasyid Dimas memberikan perhatian besar pada poin ini. Ia menyampaikan bahwa orang tua yang selalu bertindak serius dalam mendidik anak tanpa rasa humor, maka ia akan membuat jarak yang canggung diantara mereka. Rasulullahpun bercanda dan bermain dengan cucu-cucunya, Hasan dan Husain.

Dari Muawiyah, aku mendengar Rasulullah SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda, “Barangsiapa yang memiliki anak maka hendaknya Ia bermain dengannya,”(Al-Hadits)

 Cukuplah Rasulullah menjadi teladan. Bahkan Hasan dan Husain pernah berada di atas pundak Rasulullah, dan Rasulullah saat itu sedang melakukan ibadah shalat.

Rasyid Dimas menyampaikan beberapa manfaat dan nilai yang didapatkan anak saat bermain dengan orang tuanya:

  1. Nilai Fisik
  2. Nilai Pendidikan
  3. Nilai Sosial
  4. Nilai Etika dan Moral
  5. Nilai Inovasi
  6. Nilai Jati diri
  7. Nilai Terapi

Kiat 6

Biasakanlah Anak Mengekspresikan Perasaannya

Motivasi adalah hal yang baik untuk dilakukan. Mengarahkan mereka untuk melakukan apa yang menurut orang tua dan guru baik untuk anak-anak. Namun Jangan sampai terlena. Tanyakan kembali pendapat mereka. Beri mereka waktu untuk menyampaikan perasaan yang dimilikinya. Anak yang tumbuh dengan mengekspresikan perasaannya akan bahagia dan memiliki ide yang banyak.

Kiat 7

Biasakanlah Anak Mengekspresikan Perasaannya

Rasulullah memiliki banyak cara untuk mengembangkan rasa percaya diri anak. Salah satunya adalah sikap konsisten pada keputusan. Teguh pada keinginan adalah hal utama yang harus dimiliki anak. Berikut pembiasaan yang di contohkan Rasulullah agara anak tidak salah dalam menentukan keputusan:

  1. Meneguhkan keinginan anak:
  2. Membiasakan untuk menjaga rahasia
  3. Membiasakan untuk selalu berpuasa
  4. Meningkatkan kepercayaan diri dalam interaksi social
  5. Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak dalam Interaksi Sosial

Yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam terbiasa membawa cucu-cucunya berkumpul bersama para sahabat. Anak-anak yang terbiasa dengan orang dewasa sejak kecil akan memiliki kepercayaan diri yang lebih besar.

  • Meningkatkan Kepercayaan Diri Melalui Peningkatan Ilmu Pengetahuan

Yaitu membekali anak ilmu Alquran dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Mereka yang tumbuh dengan Al Quran dan hadits, tidak akan tersesat oleh kemajuan zaman.

  • Meningkatkan Kepercayaan Anak dalam Bidang Ekonomi dan Perdagangan.

Yaitu mulailah dari hal sederhana. Ajaklah anak-anak berbelanja ke pasar. Mereka akan mengetahui dunia baru dengan melihat proses jual beli.

Kiat 8

Janganlah Pelit Memberikan Pujian pada Anak

Rasulullah adalah seseorang yang pandai menyampaikan pujian. Namun Rasulullah juga tidak pernah melebih-lebihkan. Lakukanlah sesuai dengan porsinya.

Kiat 9

Berikanlah Anak Motivasi untuk Berbuat Baik dan Menghindari Semua Perbuatan Buruk

Al-Qur’an menyampaikan suatu perbuatan baik akan berbuah positif dan perbuatan buruk akan berbuah negative. Perbuatan baik berbuah syurga dengan segala kenikmatannya dan perbuatan buruk berbuah neraka dengan seluruh keburukannya.

Kiat 10

Biasakanlah Anak Berbuat Baik

 Salah satu metode yang paling baik adalah metode pembiasaan. Bisa karena terbiasa. Islam adalah agama yang menggunakan metode pembiasaan. Mulai dari ibadah termasuk dalam aplikasi sholat. Tak hanya itu, metode pembiasaan juga dapat diaplikasikan dalam aspek pendidikan etika dan adab.

Bagian ke tiga adalah Mengarahkan Potensi Anak  (Kiat ke 11 – Kiat ke 25) . Kiat ke 11 hingga kiat ke 25, penulis memfokuskan parenting tentang mengarahkan potensi anak. Bagian bab ini adalah mengulas tentang cara mengarahkan anak menuju tujuan yang diimpikan dengan melihat kecenderungan, kemampuan, dan bercermin pada Alquran serta Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Kiat Ke 11:

Responlah Kecenderungan Anak

Kiat Ke 12:

Pilihlah Waktu Terbaik untuk Mengarahkan Anak

Kiat Ke 13:

Bertahaplah dalam Memberi Arahan

Kiat Ke 14:

Berbicaralah Terus Terang Kepada Anak

Kiat Ke 15:

Berbicaralah Sesuai dengan Kemampuan Akal Anak

Kiat Ke 16:

Memotivasi Anak agar Berani Mengungkapkan Pendapatnya

Kiat Ke 17:

Janganlah Bosan Melatih Anak

Kiat Ke 18:

Arahkan Anak pada Kepribadian Rasulullah Sebagai Panutan

Kiat Ke 19:

Jadilah Pendengar yang Baik untuk Anak

Kiat Ke 20:

Doakanlah Anak dan  Jangan Melaknatnya

Kiat Ke 21:

Latihlah Anak dan Janganlah Melaknatnya

Kiat Ke 22:

Isi Waktu Luang dengan Hal yang Bermanfaat

Kiat Ke 23:

Berilah Anak Semua Aktivitas yang Mampu Mengembangkan Semua Daya Psikomotoriknya

Kiat Ke 24:

Tanamkanlah Pendidikan dengan Nasihat

Kiat Ke 25:

Gunakanlah Kisah untuk Menanamkan Nilai dan Keutamaan Dalam Diri Anak

Kelebihan Buku

Sudah baca buku yang membahas tentang kiat mendidik anak. Mulai dari judul yang ringan hingga buku dengan ketebalan hingga ribuan halaman. Tiap penulis memiliki ciri khasnya sendiri dalam menyampaikan ide mendidik anak. Tak hanya buku, film dalam hingga luar negeri pun banyak mengangkat isu tentang mendidik anak. Mulai dari ciri khas asia, timur tengah hingga tren American style.

Orang tua baru dan para guru mengambil banyak pelajaran dari buku dan film-film tersebut. Tentunya banyak ilmu baru yang didapatkan. Namun tidak banyak dari buku dan film tersebut yang membahas parenting lalu menyandingkannya dengan teknik Rasulullah dan para sahabat.

Muhammad Rasyid Dimas mengulas tentang kisah nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabat. Kisah-kisah tersebut dijelaskan sebagai fakta pendukung untuk memperkuat teori 25 kiat yang dibahas.

Setiap kisah yang disampaikan, tak lupa penulis menceritakan keseluruhan kisah asal musababnya. Melalui penjelasan tersebut pembaca mampu membuat kesimpulan sendiri. Melalui hasil membaca kisah tersebut pembaca akan menerapkan cara-cara Rasulullah dan Sahabat sesuai kondisi yang dialaminya.

25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak adalah buku terjemahan dengan judul asli 25 Thariqah Lit-Ta’tsir Fi Nafsith-Thifli Wa’Aqlihi. Meskipun buku terjemahan namun penulisan maupun pemilihan diksi sangat mudah dipahami. Gaya bahasa yang dipakai tidak berbeda dengan buku asli berbahasa Indonesia. Bahkan tidak akan ada yang sadar jika buku ini adalah buku terjemahan. Kelebihan lain dari buku ini adalah Muhammad Rasyid Dimas menyusun bab sesuai dengan urutan yang pas. Kiat pertama hingga kiat ke 25 disusun berdasarkan hal paling dasar hingga paling kompleks yang harus diberikan kepada anak. Dari susunan bab tersebut, orang tua dan guru bisa mempraktekkannya tahap demi tahap sesuai dengan urutan bab. Sebuah ide yang sangat cemerlang dari seorang Muhammad Rasyid Dimas.

Kekurangan Buku

Muhammad Rasyid Dimas begitu piawai menyampaikan idenya dalam 25 kiat yang disampaikan. Ia mampu menyampaikan tanpa menggurui tapi dengan kisah nabi dan para sahabat.   Meskipun begitu, setiap buku memiliki kelemahannya masing-masing. Hampir semua dalam kiat yang disampaikan Rasyid Dimas menggunakan hadits dan kisah. Namun ada beberapa kisah yang berulang yaitu pada halaman 49-50 dan halaman 70 tentang kisah pohon kurma.

Selain kisah yang berulang, paragraph penjelas pada beberapa kiat juga memiliki makna yang sama dengan kiat lainnya. Seperti pada pembahasan kiat ke-9 dan kiat ke-10, serta pada kita ke-24 dan kiat ke-25.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Artikel Lainnya

Kabar SMP

Pengumuman Kelulusan SMP IT Al Fatih Makassar

Barakallahu fiikum kepada seluruh Ananda Kelas IX SMP IT Al Fatih Makassar atas kelulusannya. Semoga segala ilmu yang diperoleh selama menjadi peserta didik di SMA IT Al Fatih berkah sehingga menjadi jalan yang mengantarkan kesuksesan dunia dan akhirat anandaku sekalian.

Ber-Ikhtiar mempersiapkan diri secara dini dan holistik di Sekolah Islam Terpadu Al Fatih

Pendaftaran Peserta Didik Baru Online

Sekolah Islam Terpadu Al Fatih Makassar jenjang Daycare-TK-SD-SMP-SMA kembali membuka Penerimaan Peserta Didik Baru untuk tahun 2019/2020 mulai Bulan Januari hingga Mei 2019

Foto Kalender TKIT Al Fatih
Scroll to Top
×

Ahlan Wa Sahlan

di SIT Al Fatih Makassar! Silakan chat dengan Customer Assistance Officer kami untuk memulai obrolan. Anda juga bisa meninggalkan pesan di email kami

info@alfatihmakassar.sch.id

× Kontak Kami