• +62852.9965.9611
  • info@alfatihmakassar.sch.id
  • Senin - Jumat: 07:00 - 16:00

Sering Dimarahi, Neuron Anak Mati, Akibatnya!

Otak itu bekerja bukan hanya secara structural, melainkan ada listriknya, ada hormonalnya. Ketika anak belajar, neuronnya menyambung, berdekatan, antar neuron semakin lama semakin kuat. Sistem hormonal juga bekerja.

Yuk Bagikan Tulisan Ini

Share on facebook
Share on pinterest
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram

Baru saja bangun dari tidur, Eleana langsung menangis dengan keras. Mama yang sedang menyiapkan sarapan,  kaget dan memanggil Eleana dari ruang dapur. Eleana tak bergeming mendengar panggilan mamanya, tangisannya semakin pecah. Mama semakin gusar mendengar tangisan Eleana pagi-pagi. Mama Eleana meminta tolong pada suaminya. Papa Eleana terlihat terburu-buru berangkat ke kantor. Eleana masih menangis di atas tempat tidurnya.

10 menit berlalu, barulah sang mama dengan daster panjangnya dan rambut yang diikat sembarang, datang menghampiri Eleana. Balita 4 tahun itu menghentikan tangisannya saat di gendong. Satu menit kemudian mama Eleana terkejut. Ia meraba celana Eleana yang sudah basah. Diturunkannya Eleana dari gendongannya. “Kamu kok masih ngompol? Mama kan sudah bilang sebelum tidur harus ke toilet dulu,” “kalau malam jangan minum susu terlalu banyak,” mengkerut wajah sang mama memberikan nasehat pagi. Sembari menggulung sprei yang sudah bau ompol. Sang mama masih meneruskan nasehatnya, “Eleana bukan anak kecil lagi, jadi Eleana harus paham,”.

Eleana terdiam, berdiri di balik pintu. Suara mamanya terdengar semakin nyaring. Eleana mencoba untuk tidak mendengarkan. Selesai menyimpan seprei dibaskom. Mama kembali menggendong Eleana. Mengajaknya ke kamar mandi. “Sini mama bantu bersihkan badan Eleana,” Kali ini suara sang mama melemah, marahnya sudah hilang.

Mama memandikan Eleana sambil tersenyum kepadanya. Membersihkan kepala, wajah hingga  seluruh badannya sambil mengajaknya bercerita. Tapi, apakah Eleana baik-baik saja?

Tadi pagi ia kaget mendapati kasurnya basah. Dengan tangan kecilnya Ia meraba celananya. Perasaannya kacau, Ia merasa bersalah dengan semua ini. “Kenapa aku harus mengompol,” bukankah aku sudah besar,” “Mama pasti akan sedih melihat ini,” hatinya gundah, pikirannya yang sederhana belum mampu menyelesaikan semua masalah ini. Tangisannya pecah sesaat kemudian.

Itulah yang terjadi. Pagi ini Eleana punya masalah besar. Bagi sang mama, kejadian pagi ini berlalu dengan hitungan menit. Ia dan Eleana kembali bermain sambil tertawa. Eleana pun melupakan masalah besarnya pagi ini.

Terlihat sepele!

Tapi…Tahukah Ayah dan Bunda. Kisah Eleana belum berakhir begitu saja. Eleana baru saja mengalami stress dan tingkat percaya dirinya menurun drastis. Emosi marah dan ekspresi menakutkan yang ditunjukkan oleh mama menimbulkan emosi dan kepribadian baru pada dirinya.   

Di kutip dari @kompas.com/2015.  Dokter ahli ilmu otak dan Neuroscience Indonesia, Amir Zuhdi mengatakan

“Otak itu bekerja bukan hanya secara structural, melainkan ada listriknya, ada hormonalnya. Ketika anak belajar, neuronnya menyambung, berdekatan, antar neuron semakin lama semakin kuat. Sistem hormonal juga bekerja,” jelasnya

Sebaliknya neuron anak akan mati ketika sering mengalami stress dan depresi. Sering dimarahi dan dibentak akan menjadikan anak stress serta depresi, akibatnya hormon pengendali stress pada tubuh yakni hormon kortisol akan semakin meningkat. Berdasarkan proses kerja otak, hormon kortisol yang tinggi menjadikan neuron pada otak anak menjadi mati.

Berikut akibat pada tumbuh kembang jika anak banyak mengalami kematian neuron atau apoptosis:

  1. Kemampuan berpikir anak akan menjadi lambat
  2. Anak akan mengalami kesulitan memahami bahasa ekspresif dan represif
  3. Spontanitas anak melemah
  4. Kemampuan kognitif anak melemah
  5. Mengalami kesulitan dalam aspek kualifikasi penyelesaian masalah
  6. Tidak memiliki kepercayaan diri
  7. Apatis
  8. Membangkang
  9. Egois
  10. Introvert

Tak hanya secara medis. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam menyampaikan  

“Bukanlah orang yang kuat itu diukur dengan kuatnya dia melawan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah,”

dalam hadits lain Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menyampaikan

“Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaknya duduk, kalau kemarahannya belum hilang maka hendaknya dia berbaring,”.

Jika ayah dan bunda tidak mampu menahan diri (marah) saat menghadapi anak, maka lebih baik menjauh dulu dan menata emosi. Pahami bahwa mereka juga sedang kecewa dan stress dengan kesalahan yang mereka lakukan.

Lalu, apakah orang tua harus menurutkan kesalahan anak?

Tentunya jawaban setiap ahli parenting adalah tidak.

Ketika anak melakukan sebuah kesalahan maka lakukan beberapa pendekatan. Pendekatan yang paling efektif biasanya adalah pendekatan persuasif. Tujuan pendekatan ini adalah untuk mengambil hati anak agar memahami dengan baik kesalahan yang dilakukannya. Jika kesalahan anak dianggap fatal dan selalu dilakukan berulang-ulang. Maka buatlah kesepakatan bersama dengan anak berupa pasal sanksi dan hadiah. Lebih dikenal punishment and rewards.

~astrikhaer

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Artikel Lainnya

Blog Guru

Resensi Buku “Seni Menghadapi Anak Bandel”

Saat menghadapi anak, orangtua tidak dibenarkan berlaku kasar, marah-marah apalagi memukul. Cara tersebut termasuk dalam perbuatan yang tidak efektif untuk mengubah perilaku anak yang bermasalah. Jika orangtua melakukan hal seperti itu maka akan meninggalkan kesan yang menakutkan pada diri anak.

Blog Guru

Resensi Buku “25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menegaskan tentang Alquran dan Hadits sebagai pegangan. Maka orang tua tak perlu jauh mencari teladan dalam menasehati anak. Mengawal tiap langkah mereka adalah tugas utama orang tua dan guru.

Ber-Ikhtiar mempersiapkan diri secara dini dan holistik di Sekolah Islam Terpadu Al Fatih

Pendaftaran Peserta Didik Baru Online

Sekolah Islam Terpadu Al Fatih Makassar jenjang Daycare-TK-SD-SMP-SMA kembali membuka Penerimaan Peserta Didik Baru untuk tahun 2019/2020 mulai Bulan Januari hingga Mei 2019

Foto Kalender TKIT Al Fatih
Scroll to Top
×

Ahlan Wa Sahlan

di SIT Al Fatih Makassar! Silakan chat dengan Customer Assistance Officer kami untuk memulai obrolan. Anda juga bisa meninggalkan pesan di email kami

info@alfatihmakassar.sch.id

× Kontak Kami