Tentang Penulis

Our Tweet

Ssssttt!!! Jangan Sampai Anak Salah Didik

Bagikan Artikel Ini Jika Bermanfaat
Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email

Punya peranan penting di keluarga, bukan hanya milik kepala keluarga. Seorang bapak yang kompeten tidak akan cukup tanpa ibu yang kreatif. Seorang bapak yang disiplin tidak akan cukup tanpa ibu yang bijaksana. Seorang bapak yang tegas tidak akan cukup tanpa ibu yang lemah lembut. Begitupun sebaliknya. Si kecil butuh dukungan dari dua aspek tak terpisahkan itu. Bukan untuk saling pimpin memimpin tapi untuk berjalan searah beriringan.

Butuh diskusi panjang memang. Bapak dan ibu harus memulai visi dan misi jauh sebelum anak-anak lahir ke dunia. Tapi, memulai saat anak-anak mulai memasuki usia sekolah juga tidak mengapa. Terlambat jauh lebih baik, dari pada tidak berubah sama-sekali. Ingat, orang tua adalah madrasah pertama anak. So… don’t give up to learn.

Subuh Senja

Pagi hari….

Suasana diluar rumah masih belum sepenuhnya cerah. Malam belum pergi seutuhnya. Tapi Adzan sudah berkumandang tanda subuh telah datang. Eva, bergegas bangun dari tidurnya. Menatap punggung suaminya yang masih terlelap. Tepukan ringan di pundak sang suami, sukses membangunkannya. Segera keduanya siap-siap untuk memulai hari. Sang suami bergegas ke masjid. Setelah subuh belalu, Eva menuju kamar sang kakak yang masih gelap, tanda masih lelap betul tidur si kakak. Ingin membangunkan… rasanya Eva kasihan jika mengganggu tidur si kakak. “Masih subuh juga, biarlah kakak tidur lebih lama,” gumam Eva sambil berjalan menuju kamarnya. Amira, anak sulung Eva tahun ini sudah genap 7 tahun. Tepatnya sudah duduk di kelas 1 sekolah dasar.

Pukul 6 pagi, matahari mulai meninggi. Eva segera tersadar dari kegiatannya di dapur. Pagi hari Eva senang membuat sarapan istimewa. Baginya sarapan paling penting agar anak dan suaminya bisa bersemangat memulai hari. Niat mulia dari seorang ibu yang cinta keluarga. Eva segera meninggalkan aktivitasnya. Ia bergegas membangunkan Amira yang masih terlelap. Amira tampak tak bergeming dari tidurnya. “Amira bangun cepat, sudah tidak ada waktu untuk bermalas-malasan, kamu akan terlambat ke sekolah,”Eva semakin panic saat melihat anaknya tak bergegas sedikitpun. Masih belum juga Amira beranjank dari ranjangnya. Suara suami Eva terdengar dari luar, Eva langsung menuju sumber suara. “Wah… telurnya gosong,” Eva panik setelah melihat suaminya berusaha mengangka telur gosong dari penggorengan.

Perasaan Eva semakin tidak karuan. Sarapan yang dibuatnya dengan niat tulus malah gosong. Amira yang dibiarkannya tertidur meski subuh telah datang malah tak bangun-bangun hingga pagi. Sang suami yang sedari tadi harusnya telah siap berangkat bekerja harus membantunya menyelesaikan kekacauan pagi yang dibuatnya.

Amira muncul dari balik kamarnya. Eva menatap dengan wajah tak bersahabat lagi. “Kamu mau sekolah atau tidak?” Eva meninggikan suaranya. “Mandi sekarang!!! Atau kamu tinggal saja di rumah sendirian,”Eva bahkan mengancam Amira.

Yappp!!!

Eva sukses menghancurkan berbagai jenis sel di dalam otak anaknya yang masih berumur 7 tahun. So what the hell? Eva sang ibu dengan satu anak ini bukanlah ibu yang jahat. Ia selalu bangun  subuh, memulai hari dengan sholat bahkan mengingatkan suami untuk ke masjid. Eva perempuan yang berhati lembut. Sangat cinta dengan anaknya. Namun, tak jarang Eva tanpa sadar meninggikan suaranya. Lalu apa yang salah???

Apakah Eva salah? Atau sang Anak yang tak bisa bangun subuh? Rumusnya adalah anak tak pernah salah!!

Ini problem dari pola mendidik.

Eva belum punya time schedule yang jelas. Eva masih belum tega membangunkan anak saat adzan subuh berkumandang. Efeknya adalah sang anak tak punya range waktu yang jelas. Padahal Allah telah menetapkan 5 waktu sholat sebagai alarm. Maka jangan salahkan anak jika kelak setelah besar nanti enggan bangun subuh untuk sholat. Tak membangunkan diawal waktu, akhirnya persiapan sekolah dipagi hari akan berantakan. Eva belum mampu mengelola emosi. Alhasil akibat dari kemarahan Eva pagi itu, membuat Amira merekam pelajaran baru dalam otaknya. Emosi sedih, kecewa bahkan marah tanpa bisa di lepaskan terbentuk dalam dadanya. Amira mengenal emosi “tertekan”. Tanpa sadar orang tua yang sering membentak dan memarahi anak telah membunuh 10 milyar sel otak sekaligus.

Anak yang tumbuh dengan tekanan akibat sering dibentak dan dimarahi telah kehilangan bermilyar-milyar sel dalam otaknya, akibatnya adalah

  1. Anak kurang percaya diri

Selalu merasa salah. Tidak mendapatkan dukungan berupa pujian dan motivasi mampu menenggelamkan karakter percaya diri pada anak.

Depression
  1. Anak tumbuh dengan sifat egois, pemarah, dan pemberontak

Menjadi biang masalah di lingkungan sekolah bahkan lingkungan rumah. Anak akan meniru perilaku orang tuanya yang senang menindas, bahkan marah tanpa mau mendengarkan pendapat orang lain.

Pemarah
  1. Anak tidak mengenal sifat empati dan simpati

Menjadi si keras hati tanpa mau bernegosiasi dengan keadaan dan orang lain. Rasa saying dan kepedulian yang harusnya berkembang malah menghilang tanpa dibentuk oleh orang tua.

Simpati Muslim
  1. Anak menjadi pribadi yang introvert

Tidak senang berbagi perasaan dengan orang lain. Sang anak tidak akan mudah mempercayai orang lain. Baginya orang di sekitarnya tak peduli dengan perasaanny, olehnya itu sang anak malas untuk memulai menceritakan tentang dirinya.

Tidak Percaya Diri
  1. Anak tak berani mengembangkan diri

Orang tua hanya fokus pada perilaku anak yang salah akibatnya anak juga tidak akan menemukan potensi yang baik pada dirinya. Anak tidak akan memiliki keinginan yang kuat untuk membentuk keahlian. Bahkan anak yang tumbuh dengan makian tak akan mengenal hobinya sendiri.

Menjadi Anak Kreatif Sejak Dini

Lalu adakah cara menumbuhkan bermilyar-milyar sel otak yang baru?

Jawabannya ADA, Rumus berikut bahkan akan menumbuhkan sel otak hingga 10 trilyun

  1. Berikan senyuman tiap menatap wajah anak
  2. Gunakan rumus 2 T+ M sebanyak-banyaknya : Tolong, Terima kasih + Maaf
  3. Tunjukkan kasih sayang dengan rumus “Touch” : dengan pelukan atau sekadar mengusap kepala anak

Problem paling umum orang tua tanpa sadar keliru mendidik anak adalah padatnya jadwal harian orang tua dan anak. Tak banyak orang tua hanya memiliki waktu dengan anak saat akhir pekan. Itupun hanya sekadar mengajak anak ke area permainan. Bukannya salah, namun hubungan emosional orang tua dan anak bahkan tak terbentu meski mereka berada di tempat yang sama. Anak hanya focus pada mainannya.

Jika ingin memulai perubahan dalam mendidik anak maka mulailah menjadi orang tua yang super tim. Bapak dan ibu harus menjadi tim paling kompak. Harus dan visi dan misi.  Selain itu buatlah jadwal “Special Time For Kids”, tak perlu harus di tempat yang baru. Program “Special Time For Kids” ini bisa diaplikasikan di rumah. Misalnya tiap pukul 20.00-21.00 P.M adalah waktunya bermain bersama anak. Bahkan orang tua bisa menemani anak belajar bersama. Tunjukkan bahwan orang tua juga senang belajar alhasil anak anak meniru dan menjadi senang belajar. Ingat “Special Time For Kids” itu adalah “Time is not playing cellphone”. Di akhir pekan keluarlah bermain dengan anak, pilihlah permainna yang mampu mendekatkan emosi antara anak dan orang tua. Salah satu solusi bermain yang menyenangkan adalah melakukan kegiatan hobi bersama.

Baca Artikel Lainnya

Ananda SDIT Al Fatih

SIT Al Fatih Makassar, Merahkan Ratulangi!

Sekolah Islam Terpadu (SIT) Al Fatih Makassar melaksanakan pawai kemerdekaan serentak hari ini, Rabu (15/8). Rute pertama dilalui oleh rombongan unit SDIT,SMPIT

Subscribe to our Newsletter

Dapatkan beragam artikel inspirasi, info kegiatan dan agenda sekolah kami  langsung melalui email Anda. Subscribe sekarang dan raih kesuksesan bersama kami!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top