Generasi Alfa : Anak Kecil dengan Tas Punggung Besar

Generasi Alfa : Anak Kecil dengan Tas Punggung Besar
Generasi Alfa hadir setelah generasi Z menutup abad 20. Bisa dikatakan generasi Alfa adalah generasi pembuka abad 21. Generasi Alfa juga hadir pada masa kecanggihan teknologi melekat di seluruh aspek kehidupan manusia.

Yuk Bagikan Tulisan Ini

Share on facebook
Share on pinterest
Share on twitter
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram

Anak kecil dengan tas punggung besar, bersepatu tali lengkap dengan kaos kaki setengah lutut. Rambut tersisir rapi dengan polesan minyak khusus agar mengkilap. Subuh baru saja berlalu, dan pagi baru saja akan datang. Jarum jam di dinding masih jauh dari pukul 07.00. Matahari masih malu-malu pula untuk muncul. Namun si anak kecil itu sudah siap memulai hari.

Satu jam yang lalu, Ia baru saja bangun tersungut-sungut dari tidurnya. Terlampau sulit untuk bangun setelah semalam menonton youtube dan bermain game di android miliknya. Papa dan mama selalu berbaik hati mengizinkannya bermain android setelah Ia menyelesaikan tugas sekolah dengan baik. Imbasnya, Pagi ini Ia harus berjuang mendapatkan semangat dari dalam tubuhnya untuk mandi dan segera sarapan. Kini setelah semua perjuangan yang dilaluinya Ia masih harus terus berjuang.  Hari masih terlalu panjang untuk berpuas hati, Ia masih harus berjuang menjadi anak baik di depan Ayah, Bunda, dan gurunya setiba di sekolah. Ia sangat sibuk dengan buku dan pelajarannya meski umurnya masih 5 tahun. Teman-temannya di sekolah bahkan ada yang masih 3 tahun bahkan 2 tahun.

Begitulah gambaran sekilas kehidupan anak-anak generasi Alfa. Yaitu mereka yang lahir dari rentang tahun 2010 hingga sekarang. Generasi yang akan terus bertambah jumlahnya hingga 2 miliar orang di tahun 2025, menurut data bussines insider McCrindle, yaitu sebuah grup peneliti.

Generasi Alfa hadir setelah generasi Z menutup abad 20. Bisa dikatakan generasi Alfa adalah generasi pembuka abad 21. Generasi Alfa juga hadir pada masa kecanggihan teknologi melekat di seluruh aspek kehidupan manusia. Mereka lahir ke dunia dari orang tua yang berasal dari generasi milenial. Jika di masa kelahirannya saja, mereka sudah hidup tak terpisahkan dengan kecanggihan teknologi, maka kita tak mampu bayangkan lagi kelak ketika mereka dewasa.

Orang tua anak-anak kecil itu saat ini dalam masa produktif menggunakan berbagai social media. Mengetahui perkembangan dunia lebih cepat. Bekerja di kantor lebih gesit karena persaingan semakin ketat. Persaingan antar ibu-ibu muda untuk memiliki anak yang paling pintar pun tidak kalah ketatnya. Mereka berani menyekolahkan anak di usia yang lebih muda, bahkan memilih sekolah dengan jam belajar yang lebih lama. Sekolah bertaraf internasional dan bergengsi jadi incaran. Alhasil orang tua bekerja pagi, siang hingga malam, menjelang subuh mereka baru pulang saat anak-anak sudah terlelap.

Anak kecil dengan tas punggung besar, memiliki beban yang lebih besar dibandingkan masa kecil generasi X,Y dan Z. itulah yang harus dipahami para orang tua. Ayah dan Bunda harus lekas tersadar dari roda waktu yang melaju semakin kencang ini. Diprediksi generasi Alfa akan menjadi generasi paling berpendidikan dibandingkan generasi sebelumnya. Namun bukan berarti harus melaju tanpa melihat psikologi perkembangan mereka. Waspada jangan sampai bablas.

Ayah dan Bunda, kenali 2 ciri generasi Alfa dari sisi positif dan negatif:

1. Si Baby Einstein

Mereka belajar dengan sangat cepat. Terbiasa dengan perubahan dan hal-hal yang baru. Belajar dengan berbagai jenis teknik. Hal ini dikarenakan informasi berputar di tangan mereka yaitu gadget. Mereka tumbuh dilingkungan yang menjadi pusat informasi dari seluruh dunia. Buku bukan lagi satu-satunya jendela dunia.

Teknologi yang tersedia menjadikan mereka pemikir yang kreatif. Apa yang mereka lihat saat menonton youtube menjadi pengetahuan baru yang akan menghasilkan kembali beribu-ribu pengetahuan baru lainnya. Karena mereka bukan hanya pengguna namun calon ahli.

2. Nomophobia (no mobile phone phobia)

Mereka menjadi pemicu munculnya phobia baru di masyarakat. Bukan hal tabu lagi, jika melihat si batita lincah memainkan jemarinya di atas smartphone atau ipad. Si Bunda sibuk bercerita dengan teman lamanya saat masih bersekolah dahulu. Agar si batita tidak rewel minta diajak main, Si Bunda langsung menyerahkan gawainya. Tak perlu menunggu menit berlalu, suasana sudah menjadi tenang.

Meski generasi Alfa lebih mudah dan cepat belajar, namun kecanduan gadget akan mengakibatkan penurunan fungsi organ. Gejala paling awal terjadi pada organ tubuh yang paling banyak melakukan kontak langsung dengan gadget yaitu mata. Mata anak akan mengalami kelelahan yang parah hingga muncul kemerahan.

Nomophobia

Phobia ini juga terjadi pada remaja hingga dewasa. Gejala paling kuat dari nomophobia adalah munculnya kecemasan dan rasa khawatir yang mendalam hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Dampak berkepanjangan jika hal ini terjadi sejak kecil adalah alergi sosial.

~astrikhaer

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe To Our Newsletter

Get updates and learn from the best

Artikel Lainnya

Kabar SMP

Pengumuman Kelulusan SMP IT Al Fatih Makassar

Barakallahu fiikum kepada seluruh Ananda Kelas IX SMP IT Al Fatih Makassar atas kelulusannya. Semoga segala ilmu yang diperoleh selama menjadi peserta didik di SMA IT Al Fatih berkah sehingga menjadi jalan yang mengantarkan kesuksesan dunia dan akhirat anandaku sekalian.

Ber-Ikhtiar mempersiapkan diri secara dini dan holistik di Sekolah Islam Terpadu Al Fatih

Pendaftaran Peserta Didik Baru Online

Sekolah Islam Terpadu Al Fatih Makassar jenjang Daycare-TK-SD-SMP-SMA kembali membuka Penerimaan Peserta Didik Baru untuk tahun 2019/2020 mulai Bulan Januari hingga Mei 2019

Foto Kalender TKIT Al Fatih
Scroll to Top
×

Ahlan Wa Sahlan

di SIT Al Fatih Makassar! Silakan chat dengan Customer Assistance Officer kami untuk memulai obrolan. Anda juga bisa meninggalkan pesan di email kami

info@alfatihmakassar.sch.id

× Kontak Kami